Equityworld Futures : Transaksi Saham di Bursa Efek Indonesia, menutup bulan pertama tahun 2015, aktivitas pasar modal dalam negeri mulai ramai. Indeks HaRga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,5% ke level 5.289,40 pada perdagangan akhir pekan. Dalam sebulan terakhir, indeks saham sudah tumbuh 1,19%.

Nilai rata-rata transaksi harian, baik di pasar reguler maupun negosiasi sepanjang Januari 2015 mencapai Rp 6,5 triliun. Rata-rata frekuensi harian sebanyak 240.717 kali. Adapun rata-rata volume transaksi mencapai 7 miliar saham.

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini menargetkan rata-rata transaksi harian mencapai Rp 7 triliun. Proyeksi itu tumbuh sekitar 16,8% dari rata-rata transaksi harian sepanjang Januari hingga Desember 2014 senilai Rp 5,99 triliun.

Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya, berpendapat, kondisi ekonomi dan politik nasional yang cukup stabil belakangan ini membuat para investor antusias terhadap pasar modal dalam negeri. Pemerintah menunjukkan kemampuannya menjaga stabilitas ekonomi.

Menguatnya tingkat kepercayaan investor terlihat ketika terjadi gesekan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mabes Polri. Meskipun permasalahan tersebut mencuat, investor asing malah sempat mencatatkan pembelian bersih atau net buy hingga Rp 1,6 triliun di BEI.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berusaha menggenjot produksi batubara, meski harga batubara terus merosot. Hingga akhir tahun lalu, produksi batubara ADRO mencapai 56,21 juta ton batubara, atau naik 7,47% dari 52,3 juta ton di 2013. Dus, hasil produksi ini melampaui target Adaro tahun lalu yang diestimasi bakal menghasilkan 54 juta-56 juta ton batubara.

Sementara penjualan batubara ADRO juga meningkat. Namun, angka pertumbuhan penjualan batubara ADRO hanya naik 6,63% dari 53,47 juta menjadi 57,02 juta ton. Selama ini pasar batubara Adaro menyasar domestik dan ekspor ke India.

Menurut Cameron Tough, GM Head of Corporate Secretary & Investor Relations ADRO, kenaikan produksi dan penjualan tersebut didukung oleh kinerja kontraktor yang baik dan kondisi cuaca yang normal. Selain itu usaha pemindahan lapisan penutup alias overburden removal meningkat dari 294,86 juta bank cubic meter (Mbcm) menjadi 319,09 juta Mbcm. Sementara itu, nisbah kupas aktual mencapai 5,69 kali.

Cameron dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia mengatakan nisbah kupas tersebut menurun selama tiga tahun berturut-turut tanpa mempengaruhi rencana tambang jangka panjang. Pasalnya, investasi yang dilakukan untuk meningkatkan pemindahan lapisan penutup dilakukan saat harga batubara yang tinggi. Nisbah kupas yang direncanakan pun tetap lebih tinggi daripada nisbah kupas usia tambang.

Tahun ini, ADRO menargetkan volume produksi batubara naik menjadi 56 juta-58 juta ton. Kemudian, biaya kupasnya sekitar US$ 31-US$ 33 per ton dengan nisbah kupas yang direncanakan yakni 5,33 kali. ADRO pun merencanakan EBITDA operasional di US$ 550 juta-US$ 800 juta.

Akhirnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merampungkan akuisisi pada perusahaan jasa tambang. Emiten sektor batubara ini mencaplok 95% kepemilikan di PT Satria Bahana Sarana. PTBA melakukan aksi tersebut melalui anak usahanya, yakni PT Bukit Multi Investama.

Pengambilalihan ini disertai peningkatan modal melalui penerbitan saham baru oleh Satria Bahana. Perusahaan jasa tambang tersebut menerbitkan 3,84 juta saham baru setara 90,78% modal ditempatkan dan disetor penuh, untuk diserap Bukit Multi Investama. Kemudian, anak usaha PTBA juga mengambil 186.311 saham atau 4,22% dari saham yang telah ada. Secara keseluruhan, akuisisi ini mencapai Rp 48 miliar.

“Menurut PTBA, pengambilan Satria Bahana merupakan bagian strategi konsolidasi dalam rangka efisiensi. Dengan meminimalkan biaya produksi penambangan,” jelas Joko Pramono, Sekretaris Perusahaan PTBA, dalam keterbukaan informasi.

Sekadar informasi, Satria Bahana telah menjalankan bisnisnya sejak tahun 2008. Perusahaan ini melakukan pembersihan dan penggalian lahan, pengupasan tanah atau overburden batubara, serta persewaan alat berat dan tenaga operasional alat. Daerah operasi Satria Bahana di Tarakan, Kalimantan Utara dan Muara Bungo, Jambi. Sampai September 2014, ekuitas Satria Bahana Rp 8,15 triliun.