Equityworld Futures : Banyaknya masyarakat yang membeli rumah hanya untuk investasi demi mendapatkan keuntungan di masa depan, membuat harga properti saat ini menjadi naik tidak wajar.

Banyak orang yang membeli properti untuk meraih keuntungan belaka. Itu yang menyebabkan harga properti saat ini tidak terkendali.

Bila seseorang memiliki dana Rp10 miliar dan membeli 10 properti dengan harga Rp1 miliar per unit. Properti tersebut sengaja dibeli untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Contoh lain sebuah perusahaan yang menjual properti dalam sehari menghasilkan omset senilai Rp2 triliun padahal bangunannya belum jadi. Itu menjadi euforia judi.

Tren ini berdampak pada kalangan yang benar-benar membutuhkan properti tersebut.

Misalnya kita mau membeli rumah, jadinya nggak mampu karena daya beli kita nggak sesuai dengan daya beli orang-orang yang membeli properti untuk dijual kembali.

Penawaran properti yang berharga tinggi tanpa diimbangi dengan permintaan yang cukup akan berujung pada anjloknya harga properti tersebut.

Ryan mencontohkan beberapa daerah yang harga propertinya saat ini mengalami penurunan, seperti di Puncak (Jawa Barat), Tangerang (Banten), Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Hal ini karena harga demand-nya tdiak cocok. Demand-nya di harga Rp2 miliar tapi harga jualnya mencapai Rp4 miliar. Tidak ketemu harganya.

Disarankan bagi orang-orang yang ingin berinvestasi di dunia properti secara sehat bisa dilakukan dengan cara “beternak” properti.

Beternak properti, maksudnya dengan membeli satu properti dan menyewakannya kepada pihak lain. Dari hasil sewa tersebut kemudian dikumpulkan untuk membeli properti berikutnya.