Equityworld Futures Surabaya – Serangan?teror bom di komplek Sarinah, Jakarta, pada Kamis (14/1/2016), yang menewaskan 7 orang, didalangi kelompok Islam Irak dan Suriah (ISIS). Hal itu diakui sendiri oleh ISIS melalui media propagandanya, Aamaq.

Dalam media itu, ISIS mengklaim telah “mengutus” anggotanya untuk menyerang warga negara asing dan aparat Indonesia yang melindungi mereka.

Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian juga membenarkan bahwa ISIS bertanggung jawab atas serangan berdarah tersebut. Tito menyatakan, peristiwa itu sebagai pembuktian sel ISIS di Indonesia pimpinan Bachrum Na’im berpengaruh.

Serangan tersebut merupakan “kampanye” untuk suksesi kepemimpinan ISIS Asia Tenggara. Bachrum sendiri berambisi menjadi pemimpin ISIS di Asia Tenggara dan Asia Tengah.

Asal mula ISIS

ISIS berdiri pada April 2013. Awalnya, organisasi ini bernama Jamaat al-Tawhid wal-Jihad yang dibentuk pada 1999 dan bergabung dengan Al Qaeda pada 2014.

Dikutip dari Wikipedia, kelompok ini melakukan aksi pertamanya pada 2003 dengan melakukan pemberontakan Irak pasca-invasi koalisi Barat.

Kelompok ini kemudian berafiliasi dengan pemberontak Sunni yang tergabung dalam Dewan Syuro Mujahidin dan membentuk Negara Islam Irak (NII) pada Oktober 2006.

Pada 2011, perang saudara Suriah pecah dan NII di bawah kepemimpinan al-Bhagdadi membantu pemberontak di Suriah, Al Nusra dan Al Qaeda.

Akhirnya, NII bergabung dengan Al-Nusra berperang melawan pasukan pemerintah Suriah dan pemberontak lainnya. Mereka menguasai sejumlah daerah di Suriah, yakni Raqqah, Idlib, Deir ez-zor dan Aleppo.

Pada 2013 Al-Bhagdadi menyatukan NII dengan Al-Nusra dan Al Qaeda dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Namun langkah dia ditolak oleh pemimpin Al-Nusra Abu Mohammad al-Julani dan Al Qaeda Ayman al-Zawahiri.

Pada 3 Februari 2014, Al Qaeda memutuskan keluar dari ISIS. Tanpa Al Qaeda, kelompok ISIS terus melancarkan serangan di Irak dan berhasil memukul pasukan pemerintah dari sejumlah kota besar di negara tersebut.

Pada Maret 2015, ISIS berhasil menguasai beberapa kota besar di Irak dan Suriah. Kelompok ini juga menguasai wilayah kecil di Libya, Nigeria dan Afghanistan.

ISIS juga memiliki afiliasi di beberapa negara di Afrika Utara dan Asia Selatan.

Musuh bersama

Pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi disebut layak memimpin kelompok teror ini karena kemampuannya dalam taktik perang. Pria kelahiran Samarra, bagian utara Baghdad, ini dikenal sebagai komandan perang yang pintar.

Kepemimpinan Al Bhagdadi inilah dianggap mampu menarik sebagian muslim untuk berjuang mendirikan khalifah di dunia.

Kelompok teror ini awalnya memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak.

Kini, menurut BBC Indonesia, ISIS menjadi kelompok teror paling berbahaya setelah Al Qaeda.

Kelompok ini selain berperang melawan pasukan pemerintah Irak dan Suriah serta pemberontak di dua negara itu, juga melakukan aksi teror di sejumlah negara di dunia.

Serangan terbesar ISIS adalah aksi teror di Paris yang menewaskan 129 orang pada 2015 lalu dan bom bunuh diri di Lebanon yang menewaskan 41orang.

Bahkan, pesawat Rusia yang jatuh di gunung Sinai, Mesir, juga karena ditanam bom oleh ISIS. Hal itu berdasarkan penyelidikan tim dari Rusia.

Setelah itu, rentetan serangan teror dilakukan ISIS di sejumlah negara. Misalnya, penembakan di California, Amerika Serikat yang diklaim dilakukan oleh ISIS. Serangan bom bunuh diri di pusat wisata Istanbul, Turki dan terbaru penyerangan di komplek Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta, Indonesia.

Serangan teror di Paris menjadi momentum bagi negara seluruh dunia untuk menumpas kelompok teror ini. Rusia, Suriah, dan negara-negara koalisi pimpinan Amerika Serikat bersama-sama menggempur ISIS di Suriah dan Irak.

ISIS sudah menjadi musuh bersama negara-negara di dunia, termasuk Barat, Timur Tengah, Asia dan benua lainnya.

Bahkan, Al Qaeda, kelompok teror terbesar di dunia, pun ikut memerangi ISIS.Pemimpin Al Qaeda pengganti Osama bin Laden, Ayman Al Zawahiri, pernah menyatakan perang terhadap ISIS.

Agenda besar

Perang melawan ISIS menjadi agenda besar negara-negara di dunia dalam memerangi terorisme. Amerika Serikat dan koalisinya membantu pemberontak Suriah melawan ISIS.Namun di sisi lain, pemberontak juga memerangi rezim Bashar Assad.

Sementara Rusia memberikan bantuan serangan udara kepada rezim Presiden Bashar Assad juga untuk melawan ISIS. Rusia juga menggempur pemberontak yang didukung AS dan koalisinya, termasuk Turki.

Sempat terjadi ketegangan antara Rusia dengan Turki karena gempuran negara Beruang Putih itu menyasar pemberontak yang didukung Turki. Ketegangan memuncak ketika Turki menembak jatuh pesawat Rusia di perbatasan Suriah karena dianggap melanggar batas udara.

Selain itu, Barat juga mengkritik Rusia karena serangan udaranya sebagian besar membunuh warga sipil. Kritik itu dibantah oleh Rusia bahwa target serangannya tepat sasaran.

Rusia kemudian mengkritik balik Barat (AS, Perancis, Inggris dan negara lainnya) yang dianggap tak serius memerangi ISIS. Kendati memerangi ISIS, namun Barat dianggap memelihara pemberontak lainnya yang juga disebut teroris oleh Rusia.

Kendati ada ketegangan antara Rusia dan Turki yang didukung Nato serta saling kritik antara Rusia dengan Barat, namun negara-negara tersebut sudah menyatakan tekad untuk menumpas ISIS.

Bahkan, Arab Saudi membentuk koalisi militer untuk memerangi ISIS. Koalisi tersebut diklaim beranggotakan 34 negara dari Timur Tengah, Afrika, Asia, termasuk negara-negara Teluk yang kuat.

 

sumber : http://internasional.kompas.com/read/2016/01/15/07121811/ISIS.Sebagai.Musuh.Bersama?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp