Equityworld Futures : Pada perdagangan Selasa (3/3)  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  melemah tipis sebesar dua poin menjadi Rp 12.962 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 12.960 per dolar AS.  Indeks dolar AS masih bergerak di area positif terhadap mayoritas mata uang utama dunia, termasuk rupiah didukung oleh sentimen potensi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed fund rate) pada pertengahan tahun ini.   Sementara  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya melemah.  Aksi ambil untung (profit taking)  menekan  Indeks di ‘zona merah’.  Perdagangan Selasa (3/3), IHSG ditutup di 5.474,61. Melemah 3,21 poin (0,06%). Indeks LQ45 pun melemah 0,58 poin (0,06%) ke posisi 953,11.

Dolar AS masih tetap menguat meski data ekonomi AS bervariasi, ekspektasi investor juga tetap kuat tentang kenaikan suku bunga AS pada tahun ini.  Di sisi lain, situasi perekonomian di Eropa yang masih dalam perlambatan menyusul arus kredit yang relatif stagnan dan minimnya pebisnis memulai usaha baru memicu meningkatnya jumlah pengangguran di kawasan itu.  Setelah sempat positif, rupiah kembali berada dalam area negatif menyusul aksi beberapa spekulan di pasar valas domestik menyusul masih cukup kuatnya sentimen kenaikan suku bunga the Fed.  Respon pelaku pasar terhadap deflasi Indonesia pada Februari 2015 sebesar 0,36 persen memicu ekspektasi akan adanya potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI rate).

Di sisi lain, BI rate yang kembali turun akan mendorong investor jangka pendek kembali melakukan perhitungan ulang terhadap asetnya dan mencari tempat yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.  Meski  demikian, membaiknya data neraca perdagangan Indonesia periode Januari 2015 yang mencatatkan surplus menahan tekanan rupiah lebih dalam. Membaiknya neraca perdagangan itu mengindikasi perbaikan ekonomi masih dalam jalur yang diharapkan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2015 surplus dengan total ekspor mencapai USD 13,3 miliar dan impor USD 12,6 miliar sehingga terjadi surplus sebesar USD 709,4 juta.  Sebaliknya, pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang lokal ini bergerak menguat menjadi Rp 12.962 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (2/3) di posisi Rp 12.993 per dolar AS.

Kurs  rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pasar tercatat Rp 12.965/USD. Melemah tipis dibandingkan kala pembukaan pasar yang berada di posisi Rp 12.960/USD.  Hampir sepanjang hari Indeks bergerak di teritori positif. IHSG pun terus mencetak rekor dan hampir mencapai level 5.500.

Dari bursa saham,  penguatan yang terjadi beberapa waktu terakhir membuat investor tergoda melakukan profit taking. Akhirnya jelang akhir perdagangan IHSG terseret ke area negatif.  Perdagangan hari ini berlangsung semarak. Terjadi 251.046 kali transaksi yang melibatkan 7,07 miliar unit saham senilai Rp 7,11 triliun. Ada 132 saham menguat, 161 melemah, dan 94 tidak diperdagangkan.

Di sisi lain, bursa saham regional bergerak bervariasi. Sejumlah bursa yang awalnya menguat berbalik terkoreksi akibat profit taking, misalnya di Hang Seng.  Berikut perkembangan sejumlah bursa Asia:  Nikkei 225 melemah 11,72 poin (0,06%) menjadi 18.815,16, Hang Seng terkoreksi 184,66 poin (0,74%) ke posisi 24.702,78, KOSPI naik 4,57 poin (0,23%) menjadi 2.001,38, dan  Straits Times menguat 20,22 poin (0,59%) ke posisi 3.424,11.