Equityowrld Futures : Anjloknya harga timah dunia saat ini membuat produsen timah dalam negeri menjerit. Salah satu penyebabnya kerena ekspor timah yang jor-joran yang secara ilegal maupun ‘legal’.

“Saat ini terjadi ekspor yang jor-joran, banyak sekali, mau yang ‘legal’ maupun yang benar-benar ilegal, sehingga pasokan banyak harga turun,” ujar Presiden Komisaris PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (Bursa Timah/BKDI).

Fenny mengatakan, saat ini terjadi ekspor yang luar biasa banyak, karena pada 1 November 2014 berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No 44 tahun 2014 tentang ketentuan ekspor timah, diatur soal ketentuan eksportir terdaftar (ET).

Timah terbagi menjadi 4 macam yaitu timah murni batangan dengan kandungan Sn minimal 99,9%, lalu ada timah murni bukan batangan kandungan Sn
minimal 99,93%, timah golongan solder kandungan Sn maksimal 96%.

Eksportir yang akan ekspor timah murni batangan hanyalah eksprortir terdaftar (ET), khusus untuk timah murni dengan melalui bursa berjangka.

Khusus untuk ekspor timah murni bukan batangan, juga ekspor timah untuk solder dan timah paduan bukan solder wajib memiliki ET timah industri, bisa diekspor tanpa lewat bursa berjangka. Di sini lah celah, adanya peluang eksportir non bursa tetap mengekspor timah dalam jumlah besar, tanpa melalui bursa, yang berdampak pada penurunan harga timah dunia.

“Makanya, di luar timah batangan, ekspornya saat ini jor-joran, mau yang perusahaan IUP yang belum CNC (clear and clean), bahkan ada perusahaan yang izin IUP-nya sudah habis masih bisa ekspor, ini yang dinamakan ada permainan, siapa di balik mereka semua yang memudahkan mereka bisa ekspor leluasa,” ungkapnya.

Sementara itu, produsen timah pemilik PT Refined Bangka Tin Petrus Tjandra mengatakan, apalagi para eksportir ini memanfaatkan celah aturan bisa ekspor dengan mudah tanpa bayar macam-macam termasuk royalti dan sebagainya dengan mengekspor timah di luar tim batangan.

“Jadi mereka ekspor bentuk segitiga, bentuk mangkok, bentuk solder, jadi tidak perlu lewat bursa timah (BKDI), mereka hanya bayar PPN saja,” ucapnya.

Petrus menambahkan, dengan ekspor yang jor-joran tersebut, membuat harga timah terus turun. “Akibat ekspor jor-joran saat ini hancurlah harga timah,” tutupnya.

Di sisi lain, prilaku ekspor tanpa melalui bursa timah, secara langsung merugikan Indonesia. Ekspor timah yang tak melalui bursa menyebabkan, ambisi Indonesia menjadi pusat harga timah dunia sulit tercapai.

Saat ini Indonesia merupakan eksportir timah terbesar di dunia namun penetapan harga timah global ditentukan di London Metal Exchange (LME) atau di Kuala Lumpur Tin Market (KLTM).

Fenny Widjaja ketika mengunjungi redaksi detikFinance, Kamis (16/10/2014)